Friday, April 20, 2018

Membahas Tentang Sejarah Agama Buddha

Membahas Tentang Sejarah Agama Buddha

Seputar Agama Dunia - Agama Buddha adalah satu diantara agama yang keluar serta berkembang cepat di daratan India. Agama ini mulai keluar pada abad ke-6 SM. Jadi agama yang keluar pada saat itu, dengan historis agama itu masih tetap memiliki kaitan erat dengan agama pendahulunya, yakni agama Hindu. Pembawa ajaran agama ini yaitu Sindharta Buddha Gautama, yang sebelumnya peroleh pencerahan adalah seseorang pangeran kerajaan Maghada serta pemeluk agama Hindu.

Dasar serta hukum-hukum yang di ajarkan oleh Sindharta memiliki tujuan akhir untuk melepas nafsu serta penderitaan dalam kehidupan manusia hingga bisa menjangkau nirvana. Jadi agama, ajaran Buddha tidak bertitik tolak pada Tuhan serta hubungan-Nya dengan alam semesta serta semua berisi. Agama Buddha malah bertitik tolak pada kondisi yang dihadapi manusia dalam kehidupannya keseharian, terutama mengenai tata susila manusia supaya terlepas dari lingkaran sukkha yang senantiasa menemani hidupnya.

Kelahiran Siddharta “Buddha” Gautama 

Siddharta Gautama lahir sekitaran th. 560 S. M di gana-sangha (persekutuan mandiri) India Utara, dengan ibukotanya Kapilawastu. Ia adalah pangeran dari kerajaan itu. Satu kisah bercerita kelahirannya yang menyebutkan kalau Maya, ibunya, sebelumnya memiliki kandungan Siddharta mengimpikan seekor gajah putih masuk kedalam rahimnya.

Sesudah mimpi aneh itu, raja bertanya arti mimpi itu pada 44 orang brahmana paling mahsyur di negerinya. Beberapa Brahmana menyimpulkan kalau raja juga akan selekasnya mempunyai keturunan. Momen aneh lalu berlangsung di waktu sistem memiliki kandungan, walau sudah memiliki kandungan lebih dari sembilan bln., anak itu tidak kunjung lahir.

Baru saat masuk bln. ke-10 umur kandungan, anak itu lahir. Tujuh hari lalu, ibu dari Siddharta Gautama wafat. Siddharta lalu diasuh serta di besarkan oleh bibinya. Walau di besarkan oleh bibinya, Sidharta sudah tunjukkan kecerdasan diatas rata-rata. Bahkan juga ia telah dapat menulis sebelumnya di ajarkan oleh gurunya.

Menurut kisah hidupnya Siddharta Gautama awal mulanya adalah pemeluk agama Hindu, ikuti orang tuanya. Untuk menghindar dampak kehidupan orang-orang yang mungkin saja bisa melemahkan keimanannya, jadi ia tidak diizinkan lihat dunia luar istana.

Siddharta peroleh pendidikan yang begitu isolatif dari orang-orang luar. Untuk mengasyikkan serta menghindar timbulnya hasrat lihat dunia luar, keluarganya memberi kehidupan serba mahal padanya. Namun seperti manusia biasanya, Siddharta alami kebosanan serta ketidakpuasan dengan kehidupan monoton yang dijalaninya.

Keyakinan serta Ajaran Agama Buddha 

Sesudah Siddharta Buddha Gautama peroleh pencerahan, ia mengambil keputusan membatalkan kepergiannya ke nirvana supaya bisa mengajarkan visinya pada orang yang lain. Visi ini ia sampaikan dalam Empat Kebenaran Mulia atau dimaksud Catur Arya Sentani, serta Delapan Jalan Mulia atau dimaksud Astha Arya Margha.

Empat kebenaran mulia atau Catur Arya Sentani terbagi dalam : 



  • Dukha, berarti penderitaan, tujuannya kalau hidup didunia yaitu penderitaan. Selama hidupnya manusia alami penderitaan, ajaran Buddha ditunjukan untuk menolong manusia tahu arti penderitaan serta mengatasinya. 
  • Samudaya, berarti sebab penderitaan. Penyebabnya penderitaan yaitu hasrat manusia yang kuat juga akan hidup, kesenangan, serta harta. 
  • Nirodha, berarti pemadaman. Pemadaman disini tujuannya yaitu menyingkirkan penderitaan itu dengan jalan singkirkan hasrat kuat. 
  • Margha, jalan untuk menyingkirkan hasrat kuat nafsu duniawi. Jalan yang ditujukan yaitu jalan tengah pada aksese serta hedonisme, hanya satu jalan untuk menyingkirkan hasrat kuat itu. 

Untuk menyingkirkan hasrat kuat kehidupan duniawi, manusia mesti meniti delapan jalan tengah atau dimaksud Astha Arya Margha, yakni :


  • Tahu empat kebenaran mulia dengan benar. 
  • Berfikir benar, yang membawa pada karakter menyukai semuanya bentuk kehidupan, bahkan pada kehidupan yang tingkatannya terendah meskipun. 
  • Bicara dengan benar, dengan tujuan yang mulia. 
  • Bertingkah laris dengan benar, menyangkut aksi yang bermoral, penuh perhatian pada sesama, serta lakukan kebaikan pada semuanya makhluk hidup. 
  • Mata pencaharian yang benar, tujuannya yaitu agar umat Buddha tidak mencari pencaharian dari beberapa hal yang menyebabkan kekerasan. 
  • Usaha yang benar untuk mengusir semuanya fikiran jahat. 
  • Perhatian yang benar menyangkut kesadaran pada keperluan orang yang lain. 
  • Konsentrasi yang benar dalam lakukan meditasi, hingga ketenangan batin seorang bisa terwujud. 

0 comments:

Post a Comment